Budidaya Tanaman Kopi Arabika

Posted: 3 Juni 2012 in Uncategorized
Tag:

vVML);}

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

I.                   PENDAHULUAN

 

1.1.Latar belakang

Kopi adalah salah satu komoditas yang sangat penting didalam perdagangan dunia yang melibatkan beberapa negara produsen dan banyak negara konsumen.  Selama beberapa tahun terakhir, volume perdagangan kopi dunia dalam bentuk ekspor dan impor terus meningkat rata-rata 0,23% per tahun dan volume perdagangannya mencapai 4,9 juta ton per tahun. Tanaman kopi dibudidayakan oleh lebih dari 50 negara yang berada di kawasan tropis membentang dari Amerika Tengah dan Selatan, Afrika hingga Asia Pasifik. Pada tahun 2001 produsen utama kopi dunia masih diduduki oleh Brazil dengan tingkat produksi 2,06 juta ton disusul Vietnam, Kolumbia, Indonesia, India dan Meksiko.

Pada tahun 2001, konsumen utama kopi dunia masih diduduki oleh Amerika Serikat dengan total konsumsi 1,16 juta ton. Negara konsumen utama lainnya adalah Brazil, Jerman, Jepang, Italia dan Prancis dengan konsumsi masing-masing 816 ribu ton, 570 ribu ton, 420 ribu ton, 315 ribu ton, dan 314 ribu ton. Total konsumsi kopi dunia tahun 2001 tercatat sebesar 6,41 juta ton. Tingkat konsumsi tersebut diperkirakan sedikit menurun menjadi 6,39 juta ton pada tahun 2002 dan meningkat menjadi 6,49 juta ton pada tahun 2003 (Anonimus, 2002 dan 2002 a).

Pada tahun 2003, perkopian dunia masih dihadapkan pada surplus penawaran karena produksi kopi tahun 2002/03 diperkirakan masih jauh di atas konsumsi yaitu 7,05 juta ton. Tingginya tingkat produksi tersebut disebabkan oleh peningkatan produksi di Brazil mengikuti siklus yang biasa terjadi sejak tahun 1965/66 dan peningkatan produksi kopi Kolumbia sebagai dampak dari keberhasilan program rehabilitasi beberapa tahun sebelumnya. Kolumbia diperkirakan kembali menjadi produsen kopi terbesar kedua menggeser Vietnam (Anonimus, 2002).

          Karena kopi menjadi bahan perdagangan yang sangat penting dan menjadi salah satu komoditi andalan Indonesia dalam perdagangan dunia, maka untuk mensukseskan hal tersebut perkebunan kopi mendapat kepercayaan dan tugas berat dari pemerintah untuk menghasilkan kopi sebagai bahan ekspor. Produksi kopi Indonesia sebagian besar yaitu antara 50%-80% diekspor. Ekspor kopi Indonesia hampir seluruhnya dalam bentuk biji kering dan hanya sebagian kecil (kurang dari 0,5%) dalam bentuk hasil olahan. Tujuan utama ekspor kopi Indonesia adalah Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Polandia dan Korea Selatan.Volume ekspor kopi Indonesia berfluktuasi cukup tajam dengan kisaran 226 ribu ton sampai 362 ribu ton selama 8 tahun terakhir. Italia adalah negara pengimpor kopi terbesar setelah USA dan Jepang serta negara Eropa lainnya. Dalam hal ini angka kebutuhan kopi Italia diperkirakan sebesar 7 Juta Karung (bag) dimana 5 Juta Karung untuk konsumsi sendiri dan 2 Juta karung diproses dan di re-ekspor (Anonimus, 2008).

Tanaman Kopi merupakan tanaman yang sangat familiar di lahan pekarangan penduduk pedesaan di Indonesia. Jika potensi ini bisa kita manfaatkan tidaklah sulit untuk menjadikan komoditi ini menjadi andalan di sektor perkebunan. Hanya butuh sedikit sentuhan teknis budidaya yang tepat, niscaya harapan kita menjadi kenyataan. Teknologi budidaya tersebut, meliputi persiapan lahan, pembibitan, penanaman, penyulaman, penyiraman. pemupukan, pemangkasan, pengendalian hama dan penyakit, panen, serta pengolahan hasil (Prabowo, 2007).

PT Perkebunan Nusantara XII (Persero), selanjutnya disebut PTPN XII, merupakan Badan Usaha Milik Negara dengan status Perseroan Terbatas. Saham perusahaan secara keseluruhan dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia. PTPN XII merupakan perusahaan agribisnis yang profesional, memiliki integritas yang tinggi utamanya dalam pengelolaan komoditi perkebunan. Karakteristik pengelola (insan) PTPN XII setia kepada perusahaan, selalu menjunjung tinggi dan menerapkan panduan tata nilai (sinergi, profesionalitas, integritas, responsibilitas, inovasi dan transparansi) yang berdaya saing tinggi dan mampu tumbuh kembang berkelanjutan. Namun, perluasan perkebunan kopi tidak hanya terbatas pada perusahaan perkebunan besar saja, akan tetapi pada saat ini perkebunan yang dikelola oleh rakyat juga semakin luas. Ini terbukti pada tahun 1974/1975 luas areal kopi rakyat mencapai ± 90% dari seluruh areal tanaman kopi di Indonesia yang tersebardibeberapa daerah yaitu Aceh, Sumatera Selatan/Lampung, Bali dan Sulawesi Selatan. Sedangkan daerah yang diusahakan oleh perusahaan perkebunan besar adalah Jawa Timurdan Jawa Tengah dengan luas areal mencapai ± 97% dari total  luas perkebunan kopi di Indonesia. Dengan demikian yang menghasilkan bahan ekspor bukan hanya perkebunan besar, akan tetapi perkebunan kopi yang dikelola oleh rakyat juga berpotensi  untuk menghasilkan kebutuhan ekspor kopi Indonesia.. Dari hasil ekspor ini, Indonesia mendapatkan devisa dalam jumlah besar, sehingga dapat dipergunakan untuk membeli alat-alat dan bahan-bahan industri yang belum dibuat. (Kanisius 1988).            

Di samping itu tanaman kopi mempunyai fungsi sosial sebab dengan adanya perkebunan kopi akan membuka peluang kerja bagi masyakat sehingga berdampak pada penurunan angka pengangguran.

 

1.2.Rumusan Masalah

Spesifikaasi perumusan masalah dalam Praktek Kerja Lapang (PKL) ini adalah difokuskan pada:

a.       Bagaimana metode pembibitan tanaman kopi Arabika (Coffea arabika) di PTPN XII Kebun Kalisat Bondowoso?

b.      Bagaimana tahapan-tahapan pembibitan tanaman kopi Arabika (Coffea arabika) di PTPN XII Kebun Kalisat Bondowoso?

 

1.3.Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.3.1.       Tujuan Umum

Dalam praktek kerja lapang ini mahasiswa diharapkan mampu mengamati dan mempraktekkan proses pembibitan kopi Arabika (Coffea arabika) dengan didasari oleh ilmu dan teori yang telah didapat selama ini serta membandingkan dengan kegiatan dilapang sesuai dengan metode dan tahapan-tahapan di PTPN XII Kebun Kalisat Bondowoso.

 

1.3.2.      Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari kegiatan raktek kerja lapang ini adalah:

1.      Mahasiswa diharapkan mampu memahami tahapan-tahapan dalam proses pembibitan kopi Arabika (Coffea arabica L.)

2.      Mahasiswa mampu melakukan proses pembibitan kopi Arabika (Coffea arabica L.)

1.4.Manfaat

Praktek Kerja Lapang ini diharapkan bisa memberikan manfaat.  Adapun manfaat-manfaat adanya Praktek Kerja Lapang ini antara lain:

1.      Bagi Mahasiswa

a.       Sebagai sarana menimba pengalaman sekaligus belajar ilmu praktis di lapang

b.      Sebagai media sinergitas ilmu teoritis yang dimiliki dengan ilmu praktis di PTPN XII Kebun Kalisat Bondowoso.

c.       Sebagai  sarana peningkatan soft skill dan networking

2.      Bagi Institusi

a.       Sebagai sarana untuk mencetak lulusan yang handal dan siap kerja

b.      Menjalin dan membina kerjasama yang baik dengan stakeholders

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II.                TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1.            Kopi Arabika (Coffea arabika).

2.1.1.      Klasifikasi Tanaman Kopi Arabika (Coffea arabica L.)

            Taksonomi tanaman kopi arabika (Coffea arabica L.) adalah sebagai berikut :

Kerajaan          : Plantae

Divisio             : Magnoliophyta

Kelas               : Magnoliopsida

Ordo                : Gentianales

Famili              : Rubiaceae

Genus             : Coffea

 Spesies           : Coffea arabica L.

 

2.1.2.      Karekteristik Tanaman Kopi Arabika

Kopi Arabika (Coffea arabika) adalah species tanaman berbentuk pohon yang termasuk dalam famili Rubiaceae dan genus Coffea (Najiati dan Danarti, 2001).  Tanaman ini tumbuhnya tegak, bercabang, daunnya bulat telur dengan ujung agak meruncing. daunnya tumbuh pada batang, cabang, dan ranting-rantingnya tersusun berdampingan. Secara alamiah tanaman kopi memiliki akar tunggang (Kanisius, 1988).  Tetapi akar tunggang tersebut hanya dimiliki oleh tanaman kopi yang bibitnya berupa bibit semaian atau bibit sambungan (okulasi) yang batang bawahnya merupakan semaian. sedangkan untuk tanaman kopi yang bibitnya berupa hasil stek tidak mempunyai akar tunggang dan relatif mudah rebah (Najiati dan Danarti, 2001).

Pada umumnya tanaman kopi akan mulai berbunga setelah berumur sekitar 2 tahun. Bunga kopi tumbuh pada cabang primer atau cabang sekunder dan tesusun berkelompok-kelompok (Kanisius, 1988).  Bunga yang jumlahnya banyak akan keluar dari ketiak daun yang terletak pada cabang primer. Bunga ini berasal dari kuncup-kuncup sekunder dan reproduktif yang berubah fungsinya menjadi kuncup bunga.  Kuncup bunga kemudian berkembang menjadi bunga secara serempak dan bergerombol (Anonimus,2010 a).

 

2.1.3.      Habitat

Apabila di lihat dari segi ekonomis tanaman kopi mempunyai pertumbuhan dan produksi yang sangat tergantung oleh keadaan iklim dan  tanah, antara lain:

A. Tanah

Tanah merupakan salah satu komponen dalam bidang pertanian yang penting untuk dipelajari yang penting untuk dipelajari terutama sifat fisik tanah dan sifat kimia tanah, antara lain :

a.       Sifat Fisik Tanah

Sifat fisik tanah meliputi tekstur, struktur, air dan udara di dalam tanah.  Tanah untuk tanaman kopi berbeda-beda. Pada umumnya tanaman kopi menghendaki tanah yang lapisan atasnya dalam, gembur, subur, banyak mengandung humus, dan permeabel, atau dengan kata lain tekstur tanah harus baik.  Tanah yang tekstur/strukturnya baik adalah tanah yang berasal dari abu gunung berapi atau yang cukup mengandung pasir.  Tanah yang demikian pergiliran udara dan air di dalam tanah berjalan dengan baik.  Tanah tidak menghendaki air tanah yang dangkal, karena dapat membusukkan perakaran, sekurang-kurangnya kedalaman air tanah 3 meter dari permukaannya.  Akar tanaman kopi membutuhkan oksigen yang tinggi, yang berarti tanah yang drainasenya kurang baik dan tanah liat berat adalah tidak cocok. Hal ini kecuali tanah itu sulit ditembus akar, peredaran air dan udara pun menjadi jelek.

Demikian pula tanah pasir berat, pada umumnya kapasitas kelembaban kurang, karena kurang dapat mengikat air.  Selain itu tanah pasir berat juga mengandung N atau zat lemas.  Zat lemas sangat dibutuhkan oleh tanaman kopi, terutama dalam pertumbuhan vegetatif.  Hal ini dapat dibuktikan pada pertumbuhan tanaman di tanah-tanah hutan belantara hasilnya sangat memuaskan, karena humus banyak mengandung berbagai macam zat yang dibutuhkan untuk petumbuhan dan pembuahan

Sebaliknya pada tanah-tanah yang ditanami kembali (re-planting) pertumbuhan dan hasilnya kurang memuaskan.  Maka apabila dipandang perlu tanaman ulang ini hendaknya diganti dengan tanaman yang tidak sejenis, karena tanaman yang berlainan kebutuhan zat makanan juga berbeda (Kanisius, 1988).

b.Sifat Kimia Tanah

Sifat kimia tanah yang dimaksud di sini ialah meliputi kesuburan tanah dan pH.  Diatas telah dikemukakan, bahwa tanaman menghendaki tanah yang dalam, gembur dan banyak mengandung humus.

Hal ini tidak dapat dipisahkan dengan sifat kimia tanah, sebab satu sama lain saling berkaitan.  Tanah yang subur berarti banyak mengandung zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhan dan produksi

Tanaman kopi menghendaki reaksi yang agak asam dengan pH 5,5 – 6,5 dan kadar bahan organik tanah minimal 3% (Najiyati dan Danarti, 2001).  Tetapi hasil yang baik sering kali diperoleh pada tanaman yang lebih asam, dengan catatan keadaan fisisnya baik, dengan daun-daun cukup ion Ca++ untuk fisiologi zat makanan dengan jumlah makanan tanaman yang cukup.  Pada tanah yang bereaksi lebih asam, dapat dinetralisasi dengan kapur tohor, atau yang lebih tepat diberikan dalam bentuk pupuk; misalnya serbuk tulang/Ca-(PO2) + Calsium metaphospat/Ca(PO2) (Anonymous, 2010 b).\

 

B. Iklim

Tanaman kopi dapat tumbuh optimal pada 0 – 10 derajat LS dan 0 – 5 derajat LU.  Unsur iklim yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman kopi adalah pada elevasi  0 – 1500 m dpl  dengan suhu antara 17 – 24 derajat celcius.  Dengan Curah Hujan  2000 – 3000 mm/th dan kurang lebih 3 bulan kering (Najiati dan Danarti, 2001).

 

2.1.4.      Manfaat Tanaman Kopi 

Selama beberapa tahun belakangan ini, para peneliti telah mempublikasikan hasil penelitian mereka mengenai akibat minum kopi.  Namun kesimpulan yang dibuat para peneliti ini belum sampai pada kesimpulan yang meyakinkan.  Karena biasanya para peneliti hanya meneliti bahaya dari kafein, salah satu dari 500 kandungan kimia alami dalam secangkir kopi (Anonymous, 2010 c.).  Jadi sebenarnya penelitian terhadap kopi memang masih belum final dan masih jauh lebih kompleks.

Kafein yang terkandung dalam kopi memiliki efek stimulan yang cukup berbahaya.  Kafein dapat menyebabkan seseorang sulit tidur.  Kafein juga menyebabkan seseorang sulit mengendalikan emosi serta sulit berkonsentrasi.  Kafein juga diindikasikan bisa memicu kanker (Anonymous,2010 c.).

 

2.2.            Pembibitan

2.2.1.      Pengenalan

Pembibitan merupakan salah satu metode untuk perbanyakan bahan tanaman. Metode dan teknik pembibitan yang baik akan menghasilkan bibit yang subur dengan pertumbuhan yang lebih. Oleh sebab itu dalam pokok bahasan ini kami akan memperkenalkan metode dan teknik pembibitan serta hal-hal yang berkaitan erat dengan masalah pembibitan tanaman kopi.

Bibit dengan klon unggul dipilih sebagai bahan tanaman di kebun, dapat dilakukan dengan cara sambung pucuk (top budding), sambung mata (patch budding). Penanaman bibit dengan menggunakan klon unggul mempunyai beberapa keunggulan dari segi hasil yang seragam, produksi yang tinggiang tinggi dan toleran terhadap hama dan penyakit.

 

2.2.2.      Pentingnya Pembibitan

Pembibitan sangat penting dilakukan karena ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya yaitu :

1.    Umur tanaman kopi yang sudah terlalu tua,

2.    Adanya berbagai macam Hama dan Penyakit,

3.    Kurangnya klon yang unggul. Sehingga dengan melalui pembibitan   yang terurus dengan baik mampu mananggulangi hal tersebut di atas.

2.3.            Persyaratan Bibit

Untuk memperoleh hasil yang maksimal dibutuhkan bibit yang baik, persyaratan bibit yang baik yaitu :

1.        Tumbuhnya normal dan ukurannya seragam.

2.        Tidak terserang hama/penyakit, batang dan daunnya bersih dan kelihatan segar.

3.        Mempunyai akar tunggang yang lurus.

4.        Bibit yang akan ditanam harus berasal dari klon/varietas unggul yang dianjurkan.

5.        Bibit yang dianjurkan adalah bibit vegetatif, terutama bibit sambungan dan setek, karena:

- Cepat berbuah, terutama bibit stek.

- Mempunyai sifat sama dengan induk.

6.        Bibit sambungan merupakan gabungan dari 2 jenis kopi yang bersifat unggul.

7.        Bibit semai yang dapat digunakan adalah hasil silangan pertama (hibrida) yang diperoleh langsung dari penangkar-penangkar benih.(Anonimous, 2008)

 

2.4.            Penyiapan Benih Cara Vegetatif

2.4.1.      Menyambung

a.       Penyambungan memerlukan:

·     Batang bawah (onderstaam): Dipilih yang sudah teruji keunggulannya, terutama tahan terhadap penyakit akar. Dalam hal ini adalah dari golongan Robusta yaitu Klon SA 109.

·     Batang atas (entres). Entres dapat diperoleh dari:

·     Kebun sendiri: dipilih pohon yang pertumbuhannya baik, sehat, produksinya tinggi. Bahan yang diambil adalah tunas air yang sehat, diameter ± 0,75 cm atau sebesar pensil, tidak keras/lentur. Umur tunas ± 3 bulan dan sudah mengeluarkan cabang primer dan tidak boleh disimpan lebih dari 3 hari. Dari Balai Penelitian: entres diperbanyak di kebun tua yang berasal dari zaaling (biji) dengan cara penyambungan.

·     Penyimpanan dan pengangkutan entres (2-3 hari):  Bekas potongan bahan entres diolesi dengan parafin. Bahan entres dibungkus dengan pelepah pisang yang masih basah dan segar. Pelepah pisang dan bahan entres diikat agar tidak lepas. Bahan entres yang sudah dibungkus dimasukkan dalam peti kayu. Di sela-sela bungkus pelepah pisang diisi sabut kelapa yang telah dibasahi.

b.      Waktu menyambung :

Bibit berumur 6-12 bulan sejak pembibitan atau 9-15 bulan sejak disemaikan sudah berdiameter ± 1 cm atau sedikit lebih besar dari diameter entres. Penyambungan dilakukan pada pagi hari/saat tanaman sedang giat tumbuh (awal/akhir musim hujan).

 

c.       Jenis Entres:         

·     Enten pucuk atau “top enten”, bila dari wiwilan/waterloot, tanaman baru akan tumbuh sebagai batang vertical

·     Enten cabang atau “tak enten”, bila entres dari cabang kipas (waaier tak enten) atau entres dari cabang pecut (sweep tak enten). Tanaman baru akan tumbuh sebagai batang horizontal.

d.      Cara Menyambung:

·     Sambungan celah (Splent Enten/Cleft Grafting) : batang bawah dipotong mendatar 15-30 cm di atas permukaan tanah. Dibelah membentuk huruf V ± 3-4 cm dari ujung. Entres dipotong satu ruas yang ada bukunya, di atas buku dipotong ± 1-2 cm. Di bawah buku dipotong ± 7 cm dan diruncingkan. Entres dimasukkan dalam celah dan dibalut dengan tali rafia/pita kain. Diolesi parafin dan ditutup dengan tabung keras/kantong plastik. Tutup dipertahankan selama 3-4 minggu, bila sudah tumbuh tunas baru pada batang atas, tutup dilepas.

·     Sambungan rata (Plak grafting), caranya sama dengan di atas, bedanya, yaitu: batang atas dan bawah diiris dengan kemiringan yang sama, selanjutnya dilekatkan, sehingga kambiumnya saling melekat. Pada umumnya dilakukan dipersemaian dalam peremajaan.

·     Cara kina/Kina Grafting

Dilakukan pada tanaman yang batang bawahnya lebih besar dari entres. Batang bawah diiris miring ke bawah sepanjang ± 3 cm pada ketinggian 10-15 cm dari leher akar. Entres diiris tegak simetris, tapi hanya 1 bidang saja. Entres disisipkan pada irisan batang bawah dan dibalut. Perlakuan selanjutnya sama dengan yang lain. Batang bawah baru diadakan pemotongan setelah sambungan itu sudah jelas hidup. Sambungan tidak berhasil dapat dipindahkan ke bagian lain pada batang yang sama.

 

2.4.2.      Menyetek

·     Waktu menyetek : pada akhir musim penghujan, yaitu pada akhir bulan April-Mei, atau sampai bulan Juni.

·     Sumber stek terdiri dari: bahan stek dapat dibeli dari para penangkar benih/bibit, kebun entres/kebun produksi. Bahan stek berupa ujung wiwilan/cabang liar yang sehat dan tumbuh subur, serta berasal dari varietas/klon yang dianjurkan. Bahan yang dipakai adalah ruas kedua dan ketiga dari ujung batang yang masih pipih. Mata sirung (knop) sedapat mungkin dihilangkan.Kapasitas tumbuh: Ruas kedua dapat tumbuh 90% dalam waktu 1 bulan, ruas ketiga 80% dan ruas keempat 70%.

 

2.5.            Teknik Penyemaian Benih Cara Vegetatif

2.5.1.      Menyambung

Penyemaian dilakukan ± 9-12 bulan sebelum waktu penyambungan. Waktu yang diperlukan sejak bibit disambung hingga siap tanam di areal pertanaman 4-10 bulan.

 

2.5.2.      Menyetek

Bedengan tertutup : bedengan tanah dibuat dengan ukuran panjang 220 cm, lebar 140 cm dan tinggi 15 cm. Jarak antara bedengan ± 75 cm. Tanah dalam bedengan tidak perlu diolah. Buat kotak kayu yang panjangnya 2 m, lebar 120 cm, dan tinggi 60 cm. Sisi atas dan bawah kotak tidak perlu ditutup. Tempatkan kotak pada bedengan yang sudah dibuat. Dasar kotak diisi kerikil kecil-kecil setebal ± 5 cm dan di atas lapisan kerikil diberi pasir yang sudah dicuci setebal ± 20 cm. Bedengan hanya sekali-sekali disiram.

Bedengan terbuka: di tempat yang sudah ada naungannya, dibuat bedengan tanah dengan ukuran panjang ± 5-10 m, lebar 120 cm dan tinggi 20 cm. Jarak antar bedengan ± 75 cm. Tanah sebaiknya ditanggul dengan papan atau seng agar tidak tererosi/longsor. Tanah di atas bedengan di cangkul, kemudian dicampur pasir dengan perbandingan 1:1. Bedengan diberi naungan/atap dari daun kelapa atau alang-alang seperti pada bedengan penyemaian benih. 

Cara penyemaian:

§  Panjang stek ± 10 cm, dipotong miring (menyebelah), sehingga bagian ujungnya menjadi runcing, supaya permukaannya luas dan mudah tumbuh. Daun harus dipotong ± 2/3 dari panjang daun untuk mengurangi penguapan.

§  Pertumbuhan akar stek kopi dapat dirangsang dengan merendam stek dalam urine sapi yang mengandung hormon Rooton F. Caranya: urine dikumpulkan dan disaring dengan kain tipis/kain kasa, encerkan urine dengan menggunakan air bersih sampai konsentrasinya 5 % (10 ml urine + 200 ml air) atau 10 % (10 ml urine + 100 ml air).

§  Ujung stek sebelah atas diberi lilin/parafin untuk mengurangi penguapan dan mencegah serangan penyakit.

§  Stek ditancapkan miring pada bedengan sedalam ± 7,5 cm dengan kemiringan 10°-20°. Jarak tanam stek 15 x 15 cm.

§  Pada bedengan tertutup, sisi kotak sebelah atas ditutup dengan plastik dan diikat kuat supaya tidak kabur. Penyiraman dilakukan 5-10 hari sekali atau bila pasir tidak lembab.

§  Pada bedengan terbuka penyiraman dilakukan 2-3 jam sekali.

§  Setelah berumur 2-3 bulan atau panjang tunasnya ± 3-4 cm stek sudah dapat dipindahkan ke bedengan pembibitan

§  Pembibitan: bentuk bedengan pembibitan, cara pembibitan, dan cara pemeliharaannya sama dengan pembibitan pada pembuatan bibit semai.

 

2.6.            Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian

Penyiraman dilakukan dua kali sehari dan dijaga, agar tanah bedengan tetap lembab, tetapi tidak boleh terlalu basah. Penyiangan, rumput-rumput yang tumbuh di sekitar bibit harus selalu dibersihkan. Pada waktu bibit masih terlalu kecil, penyiangan tidak boleh dilakukan dengan korekan, tetapi cukup dicabut.

 

2.6.1.      Pemupukan

Pada umur 3 bulan, pupuk dibenamkan ke dalam tanah di sekeliling bibit sejauh 7 cm. Pada umur 5 bulan dan selanjutnya pupuk dibenamkan dalam tanah pada parit kecil yang dibuat di tengah-tengah barisan bibit.

Pemupukan pada bibit yang di tanam di dalam polybag dilakukan dengan cara membenamkan pupuk pada parit kecil yang dibuat mengelilingi bibit.

Dosis pupuk :

§  Umur 3 bulan: ZA=25 gram; Urea=10 gram; TS=10 gram; NPK=75 gram.

§  Umur 5 bulan: ZA=50 gram; Urea=25 gram; TS=25 gram; NPK=125 gram.

§  Umur 7 bulan: ZA=75 gram; Urea=50 gram; TS=50 gram; NPK=200 gram.

§  Umur 9 bulan: ZA=100 gram; Urea=75 gram; TS=75 gram; NPK=250 gram.

§  Umur 12 bulan: ZA=100 gram; Urea=75 gram; TS=75 gram; NPK=300 gram.

 

2.6.2.      Pengaturan Intensitas Naungan

Bibit di persemaian: 80-90 %. Bibit di pembibitan:- 30-10 minggu sebelum dipindah ke lapang: 75 %- 4 minggu sebelum dipindah ke lapang: 50 %- 4-0 minggu sebelum dipindah ke lapang: 40 %.

 

2.7.            Pemindahan Bibit

2.7.1.      Umur bibit

Bibit semai dipindahkan setelah berumur 9 bulan-1 tahun setelah disemaikan atau 6-9 bulan setelah di pembibitan. Bibit stek dipindahkan setelah berumur 9-13 bulan sejak disemaikan atau 8-10 bulan sejak pembibitan. Bibit sambungan dipindahkan setelah berumur 4-10 bulan sejak disambung.

 

2.7.2.      Cara pemindahan

Bibit yang dipelihara dalam kantong plastik, langsung dibawa ke areal pertanaman. Plastik dibuka dengan menggunakan pisau. Akar tunggangnya dipotong hingga tinggal 20-25 cm dan tanah yang membungkusnya dikorek-korek untuk meluruskan akar yang melilit.

Bibit yang dipelihara di bedengan tanah dan umurnya masih cukup muda dipindah dengan cara dicabut, caranya: (1) tanah bedengan disiram dengan air hingga basah. (2) bibit dicabut dengan hati-hati supaya akar tidak rusak.(3) untuk bibit semai dan sambungan, akar tunggangnya dipotong hingga tinggal 20-30 cm.(4) bibit diangkut ke kebun untuk ditanam.(5) Bila bibit tidak segera ditanam, maka akar bibit harus dibungkus dulu dengan tanah dan pelepah pisang lalu disiram dengan air dan ditempatkan di tempat yang teduh.

Bibit yang dipelihara di bedengan tanah dan berumur cukup tua (sudah bercabang) dipindahkan dengan cara diputar. Caranya : (1) Tanah bedengan diairi hingga basah. (2) Tanah di sekitar bibit digali melingkar dengan garis tengah 20-25 cm, sedalam 25-35 cm.(3) Bibit berikut gumpalan tanah dan akarnya diangkat.(4) Untuk menjaga jangan sampai berantakan, maka gumpalan tanah dibalut dengan pelepah pisang atau daun-daun lainnya. Selanjutnya bisa diangkut.(Anonimous, 2009).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III.               METODE PENELITIAN

 

3.1. Tempat dan Waktu

Praktek kerja lapang dilaksanakan di PT. Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII)   Kebun Kalisat Bondowoso, Jawa Timur.

   Praktek kerja lapang dilakukan selama 1 bulan antara 26 Juli sampai dengan 25 Agustus 2010.

 

3.2. Metode Praktek Kerja Lapang

3.2.1. Metode Observasi

Praktek, pengamatan dan pencatatan secara langsung terhadap obyek atau  tanaman kopi dengan maksud untuk mendapatkan data yang sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.

 

3.2.2. Metode Wawancara

Yaitu  melakukan tanya jawab dengan responden dari PTPN XII  guna memperoleh data secara tepat dan akurat.

 

3.2.2. Studi Pustaka

     Dengan mengumpulkan data dari buku-buku referensi dan brosur- brosur dari instansi maupun sumber-sumber lain.

 

3.3. Data yang akan diambil

Data yang diambil dalam praktek kerja lapang ini adalah :

a.         Berbagai macam teknik perbanyakan tanaman kopi

b.        Alat dan bahan yang digunakan dalam perbanyakan kopi

c.         Keunggulan dan kelemahan teknik perbanyakan kopi

d.        Perbanyakan yang sering digunakan (menguntungkan) 


VI.  HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1.      Gambaran Umum PT Perkebunan Nusantara XII

            PT. Perkebunan Nusantara XII disingkat PTPN XII, dibentuk berdasarkan PP No.17 Tahun 1996, tanggal 14 Februari 1996.  Perusahaan yang berstatus sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan penggabungan kebun di Jawa Timur dari PTP XXIII, PTP XXVI dan PTP XXIX.  Disahkan oleh Menteri Kehakiman RI dengan SK nomor C . 2 -8340 HT.01.01 tanggal 8 Agustus 1996.

            Akte perubahan Anggaran Dasar perusahaan nomor 62 tanggal 24 Mei 2000 dibuat oleh notaris Justisia Soetandio, SH dan disahkan Menteri Hukum dan Perundang-Undangan Republik Indonesia dengan SK No. C. 22950 HT 01 .04 tahun 2000. Selanjutnya, Akte Notaris Nomor 62 diubah menjadi Akte Nomor 30 Notaris Habib Adjie, SH., M.Hum tanggal 16 Agustus 2008

            PT. Perkebunan Nusantara XII berusaha menjadi perusahaan agribisnis perkebunan yang terintegrasi dan memiliki keunggulan daya saing (competitive advantage) melalui inovasi sehingga mampu tumbuh dan berkembang dengan menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan untuk meningkatkan nilai bagi shareholders dan stakeholders lain.

A.  Misi PTPN XII adalah:

1.      Melaksanakan reformasi bisnis, strategi, struktur, dan budaya perusahaan untuk mewujudkan profesionalisme berdasarkan prinsip-prinsip good corporate governance.

2.      Meningkatkan nilai dan daya saing perusahaan (competitive advantage) melalui inovasi serta peningkatan produktifitas dan efisiensi dalam penyediaan produk berkualitas dengan harga kompetitif dan pelayanan bermutu tinggi.

3.      Menghasilkan profit yang dapat membawa perusahaan tumbuh dan berkembang untuk meningkatkan nilai bagi shareholders dan stakeholders lainnya.

4.      Mengembangkan usaha agribisnis dengan tata kelola yang baik serta peduli pada kelestarian alam dan tanggung jawab sosial pada lingkungan usaha (community development)

 

B.  Strategi bisnis PTPN XII adalah:

1.      Fokus pada komoditas yang berdaya saing tinggi dan prospektif dalam jangka waktu relatif panjang

2.      Penciptaan produk baru, nilai (value) dan keunikan produk serta diferensiasi secara keseluruhan

3.      Pengembangan pasar baru

4.      Penataan struktur organisasi untuk optimalisasi sumberdaya

5.      Penyederhanaan proses bisnis, pengurangan birokrasi untuk mempercepat proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan tindakan di lapangan antara lain dalam pengadaan sarana produksi

6.      Peningkatan produktifitas sumberdaya yang ada dan mencari potensi sumberdaya baru dan sumberdaya alternatif

7.      Peningkatan kualitas karyawan sebagai aset melalui sistem Manajemen Sumberdaya Manusia yang terpadu dan berbasis pada kompetensi

8.      Penciptaan sistem penghargaan yang memuaskan serta iklim kerja yang mendorong inovasi seluruh karyawan

9.      Pengembangan kerjasama dengan mitra strategis untuk meningkatkan kapabilitas bisnis perusahaan

10.  Pengelolaan dampak bisnis terhadap kelestarian alam dan lingkungan

11.  Pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan melalui program kemitraan yang selektif dan efektif, serta bina lingkungan yang dikelola secara tepat dan professional

12.  Penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance)

 

C.  Tujuan Umum PTPN XII adalah:

1.      Memupuk keuntungan untuk menunjang kebijakan dan program Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional, khususnya di sektor pertanian sub sektor perkebunan.

2.      Mempertahankan dan meningkatkan sumbangan di bidang perkebunan

3.      Menyediakan lapangan kerja

4.      Memelihara kekayaan alam dan kelestarian Sumber Daya Alam

 

D.  Falsafah PTPN XII (Persero) dalam mengelola perusahaan terdiri atas :

1.        Paradigma Bisnis PTPN XII .

Paradigma Bisnis yang harus dimiliki setiap insan PT Perkebunan Nusantara XII (Persero), meliputi:

a)    Segenap insan N12 adalah pelaku agribisnis yang profesional, memiliki integritas yang tinggi, setia kepada perusahaan, dan merupakan aset terpenting bagi perusahaan.

b)   Perubahan adalah peluang, bukan ancaman, dan pasti terjadi kapanpun dan dimanapun, sehingga pembaharuan harus terus dilakukan.

c)    Fakta dan data menjadi pertimbangan utama dalam setiap pengambilan keputusan.

d)   Pengetahuan dalam berbagai bentuknya, merupakan alat meningkatkan produktivitas sumberdaya.

e)    PTPN XII mengembangkan organisasi dengan model yang efektif, efisien dan fleksibel.

f)    Setiap kegiatan harus selalu mengutamakan keunggulan untuk menghasilkan nilai tambah melalui kreativitas dan inovasi.

g)   Pertumbuhan, perkembangan dan kesinambungan perusahaan sangat bergantung pada pengetahuan dan penguasaan pasar, strategi persaingan, serta kepuasan pelanggan.

h)   Kesadaran akan kesalingtergantungan sangat bermanfaat untuk mewujudkan kerja sama tim yang sinergis.

i)     Sumberdaya manusia dibangun melalui pengembangan kompetensi sebagai bentuk investasi.

j)     Penghargaan diberikan berdasarkan kompetensidan kinerja.

k)   Hubungan industrial yang harmonis dikembangkan atas dasar kemitraan yang setara.

l)     Hubungan kerja sama yang sinergis dengan masyarakat, pemerintah dan stakeholders lainnya, dilaksanakan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mengembangkan tanggung jawab sosial pada masyarakat sekitar.

2.    Tata Nilai Insan PTPN XII.

Setiap insan N12 dalam mewujudkan Visi dan Misi Perusahaan selalu menjunjung tinggi dan menerapkan panduan tata nilai yang disebut dengan akronim SPIRIT, yang terdiri atas nilai-nilai Sinergi, Profesionalitas, Integritas, Responsibilitas, Inovasi dan Transparansi. 

a)    Sinergi adalah selalu memadukan berbagai kekuatan yang saling mendukung untuk mencapai hasil yang terbaik.

b)    Profesionalitas  merupakan wujud dari sikap insan N12 sebagai pelaku agribisnis yang loyal kepada perusahaan dan memiliki komitmen yang tinggi, dalam menjalankan tugas dan perannya, menghasilkan produk bernilai tinggi, dan selalu berupaya meningkatkan kompetensi.

c)     Integritas adalah selalu berpegang teguh pada prinsip kebenaran dalam menjalankan tugas dan perannya sesuai peraturan yang berlaku secara jujur, konsisten, ikhlas dan sepenuh hati.

d)    Responsibilitas (Tanggung Jawab) berarti selalu menggunakan logika berpikir (untuk mempertimbangkan untung dan rugi), kesadaran diri, mengembangkan imajinasi maupun mendengarkan suara hati dalam mengambil setiap keputusan dan tindakan.

e)     Inovasi merupakan kemampuan mengembangkan dan memperbaiki diri atau keadaan secara kreatif   dengan semangat hari esok harus lebih baik dari hari ini dan kemarin.

f)     Transparansi adalah landasan untuk menjunjung tinggi keterbukaan dan keadilan.

 

E.  Budaya Perusahaan PTPN XII

1.         Ketauladanan

Setiap insan PTPN XII (Persero) menjadi contoh bagi keluarganya, lingkungan kerjanya, dan masyarakat. Sikap tauladan adalah selalu memberi contoh yang baik, tidak melakukan perbuatan yang tercela, sehingga merugikan orang lain, dan lingkungannya. Insan PTPN XII (Persero) selalu menjadi contoh bagi lainnya dalam berilaku sehari-hari.

2.    Kebersamaan

            Insan PTPN XII (Persero) mengedepankan kebersamaan. Kebersamaan adalah kemauan untuk menjadi satu dalam kesatuan kelembagaan. Rasa kebersamaan ini menimbulkan kata sepakat, sama ikut merasakan baik kebahagiaan maupun kesedihan. Kebersamaan adalah lambang soliditas tim.

3.    Keterbukaan

Insan PTPN XII (Persero) menghormati keterbukaan. Segenap insan menerapkan keinginannya untuk terbuka dan bertanggung jawab. Keterbukaan adalah sikap mental untuk menerima secara senang tanpa diskriminasi. Insan PTPN XII (Persero) menyelenggarakan kegiatan kerja dengan hukum keterbukaan, karena meyakini bahwa segala yang ditutup-tutupi itu akan terbuka juga da mendatangkan aib yang lebih besar.

4.    Taat

Insan PTPN XII (Persero) adalah manusia yang selalu taat beribadah, taat menjalankan perintah, dan meninggalkan yang dilarang. Dalam beraktifitas, insan PTPN XII (Persero) menempatkan etika kerja yang berlandaskan kepada keyakinan bahwa Tuhan selalu melihat apa yang kita kerjakan, dan selalu membalas apa yang kita kerjakan.

5.    Tertib

Insan PTPN XII (Persero) meyakini bahwa tertib adalah salah satu bagian dari sikap mental disiplin. Dalam bekerja, insan PTPN XII (Persero) selalu melakukan kerja secara tertib. Tertib menyangkut aspek : tertib administrasi, tertib biaya, tertib pekerjaan.

6.    Tanggung Jawab

Tanggung adalah sikap hidup insan PTPN XII (Persero) yang timbul sebagai akibat dari melakukan aktifitas kerja. Tanggung jawab adalah beban resiko yang harus ditanggung oleh masing-masing insan PTPN XII (Persero). Hal ini disadari karena segala tindakan sudah dipikirkan dan dipertimbangkan terlebih dahulu.

7.    Peka

Peka adalah sifat tanggap terhadap situasi dan kondisi yang ada. Setiap insan PTPN XII (Persero) tertanam kepekaan dalam mengantisipasi keadaan, sehingga dalam dirinya selalu muncul usaha atau tindakan untuk menangkap situasi sebagai peluang.

 

 

 

 

8.    Peduli

Peduli adalah mau tahu, dan selalu ikut merasa, pada batasan yang lain peduli bisa berarti empati. Manajemen yang dijalankan oleh setiap insan PTPN XII (Persero) berasaskan pada empati.

9.    Patuh

Patuh berarti taat dalam peraturan. Kehendak untuk menempatkan komitmen tersirat dalam wujud kepatuhan menjalankan segala yang telah disepakati secara konsekuen, konsisten dan bertanggung jawab, untuk mencapai tujuan perusahaan.

F.  Wilayah Kerja PTPN XII

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Peta Wilayah Kerja PTPN XII

 

            PTPN XII terdiri dari 34 kebun yang tersebar di seluruh Jawa Timur, dan terbagi dalam wilayah I, II dan III.

1.      Wilayah I :

a.  Banyuwangi      :Malangsari, Jatirono, Kalisepanjang, Kalikempit, Kalirejo, Kendenglembu, Kalitelepak, Sungailembu, Sumberjambe, Kaliselogiri, Pasewaran.

b. Jember    : Gunung Gumitir

2.      Wilayah II :

a.       Kab. Jember    :Gunung Gambir, Zeelandia, Banjarsari, Renteng, Kotta Blater,   Glantangan, Kalisanen, Silosanen, Sumber tengah, Gunung Gumitir.

b.      Kab. Bondowoso        : Pancoer Angkrek, Kalisat jampit, dan Blawan.

c.       Kab. Situbondo           : Kayumas

3.      Wilayah III :

a.       Kab. Ngawi                 : Tretes.

b.      Kab. Kediri                 : Ngrangkah Pawon.

c.       Kab. Blitar                   : Bantaran.

d.      Kab, Malang                : Bangelan, Poncosari, Kalibaru dan Wonosari

e.       Kab. Lumajang            : Kertowono.

f.       Kab. Jember                : Gunung Gambir.

 

4.2.      Profil Kebun Kalisat Jampit PT Perkebunan Nusantara XII

            Perkebunan Kalisat-Jampit merupakan perkebunan kopi arabika yang di dirikan oleh bangsa Belanda pada tahun 1900 termasuk dalam perusahaan DBAK (Davit Barnie Administrasi Kantor). Untuk tahun-tahun berikutnya perkebunan ini sering mengalami perubahan nama. Pada tahun 1900 bernama Milk D.B.A.K (Davit Barnie Administrasi Kantor), tahun 1955 bernama L.M.O.D (Land Bow Matscapij Ond Djember), tahun 1958 dinasionalisir pemerintah RI dengan nama PPN Baru-Pirae Unit A, tahun 1961 bernama PPN Kesatuan Jawa Timur VII, tahun 1963 bernama PPN Antan XII, tahun 1968 bernama PPN XXVI, tahun 1972 bernama PT. Perkebunan XXVI (persero), tahun 1995 bernama PT. Perkebunan Kelompok Jawa Timur dan pada tahun 1966 berubah nama menjadi PT. Perkebunan Nusantara XII hingga saat ini.

            Perkebunan Kalisat-Jampit terletak di Desa Kalisat Kecamatan Sempol Kabupaten Bondowoso dengan jarak tempuh ± 50 km dari kota Bondowoso. Kebun Kalisat-Jampit berkantor pusat di Surabaya. Kebun ini termasuk dalam Group Inspektur Wilayah II PTPN XII yang berkedudukan di Jember (meliputi budidaya karet, kakao, kopi, kelapa dan tanaman hortikultura) dengan letak geografi 96,80 oLS ; 06,60 oBT, ketinggian 1100-1550 m dpl. Berdasarkan data yang didapat, tanah di Kebun Kalisat-Jampit lebih dominan tanah andosol dengan tekstur galuh, struktur remah, porositas baik dengan PH tanah 5,5-6,6. Tipe iklim berdasarkan Schmidt dan Ferguson digolongkan tipe iklim C (agak basah – D (sedang) dengan curah hujan 1000-3000 mm/tahun. Suhu udara maksimun 30 oC dan minimum 0 oC. Data Curah hujan dapat dilihat di lampiran I.

            Perkebunan Kalisat-Jampit dipimpin oleh seorang Manajer yang membawahi beberapa Asisten Tanaman, mulai Wakil Manajer atau yang sering disebut Sinder Kepala (SK), Asisten Tanaman (Sinder), Asisten Teknologi Pengolahan, Kepala Tata Usaha dan Mantri Kesehatan. Di Perkebunan Kalisat-Jampit terdapat 5 Afdeling dengan luas total keseluruhan 3.105,41 ha. Adapun afdeling yang terdapat di Kebun Kalisat-Jampit , antara lain: Afdeling Kampung Baru (402,22 ha), Afdeling Kampung Malang (491,41 ha), Afdeling Sempol (387,94 ha), Afdeling Krepekan (386,68 ha) dan Afdeling Jampit (1.431,16 ha) sedangkan untuk pabrik mempunyai luasan lahan 6 ha. Kopi arabika merupakan komiditi utama yang dibudidayakan di Perkebunan Kalisat-Jampit, akan tetapi saat ini juga dibudidayakan tanaman Sengon, Makadamia, Balza, Casia vera, Akasia digoren, Pinus dan juga strawbery. Selain perkebunan juga dikembangkan wisata alam kawah Ijen dan juga penginapan yang teketak di Kalisat dan Afdeling Jampit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Peta Lokasi Perkebunan Kalisat-Jampit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Peta Bedengan Pembibitan Kebun Kalisat-Jampit

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Curah Hujan Di PTPN XI

 

4.3. Struktur Organisasi PTPN XII

1.    Dewan Komisaris PT.Perkebunan Nusantara XII (Persero)

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor : KEP-222/MBU/2006 tanggal 5 Juni 2006 dan Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor : KEP-284/MBU/2006 tanggal 27 Oktober 2006, Dewan Komisaris PTPN XII adalah sebagai berikut :

Komisaris Utama        : Delima H. Azhari

Komisaris                    : Syukur Iswantoro                                          

  Sahala Hutasoit

                                      Nukman C. Sangaji

                                      Abdul Djalil Madjid

 

2.    Dewan Direksi PT Perkebunan Nusantara XII.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor: KEP-34/MBU/2007 tanggal 4 April 2007, Dewan Direksi PTPN XII adalah sebagai berikut :

Direktur Utama                                   : Nurhidayat

Direktur Produksi                               : Danu Rianto

Direktur Keuangan                             : Retno Matsudarini

Direktur Pemasaran dan Renbang      : S. Budi Raharjo

malangsariDirektur SDM dan Umum                  : Suwarno

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar  5.  Struktur Organisasi Kantor Direksi PTPN XII (Persero)

 

      Adapaun struktur pengurus Kebun Kalisat Jampit, adalah:

Manajer                                         : Ir. Ardi Iriantono

Wakil Manjer                                 : Ir. Budi Setiyawan

Asisten Tanaman                           :

·   Afdeling Kp. Baru               : A. Hendy J, STP

·   Afdeling Sempol                  : Arie Prasetyo, SP

·   Afdeling Jampit                   : Hariyanto

·   Afdeking Kp. Malang          : Edy Susanto, SP

·   Afdeling Krepekan              : Sunali

·   Astekpol                               : Dugel Hariyadi, SP

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6. Struktur Organisasi Kebun Kalisat Jampit

 

 

4.4.      Pembibitan Kopi Arabika (Coffea arabica L) di Kebun Kalisat Jampit        PTPN XII.

Di dalam rangka bercocok tanam, selain harus memperhatikan keadaan iklim, jenis dan varietas yang akan ditanam juga harus diperhatikan cara pembibitan yang baik dan benar (Kanisius, 1988). Pembibitan merupakan salah satu cara yang sering digunakan dalam rangka perbanyakan bahan tanaman. Metode dan teknik pembibitan yang baik akan menghasilkan bibit yang subur dengan pertumbuhan yang lebih cepat dan produksi yang lebih baik dengan induk tanaman. Oleh karena itu,  pokok bahasan ini akan memperkenalkan metode dan teknik tersebut serta hal-hal yang berkaitan erat dengannya.

Dalam proses penyerbukan, kopi arabika menyerbuk silang, sehingga sangat sulit untuk menentukan jenis kopi yang sama dengan induknya. Untuk menanggulangi kekurangan bibit unggul, maka kebun Kalisat-Jampit melakukan proses pembibitan yang terletak di Afdeling Kampung Baru dengan luas total areal 2,3 ha yang terbagi atas areal pembibitan sebesar 15.650 m2, luas areal sambung 2.940 m2 dan4,312 m2   Lokasi pembibitan Kampung Baru sangat strategis karena jauh dari pemukiman, jauh dari ternak, mudah dijangkau serta dekat dengan air sehingga sangat mudah dalam perawatan. Di kebun Kalisat-Jampit, teknik yang digunakan dalam perbanyakan bahan tanaman adalah secara generative (zailing) dan vegetative dengan teknik sambung (enting/grafting).

Pemilihan bibit merupakan langkah awal yang akan sangat menentukan keberhasilan budidaya tanaman kopi, pemilihan bibit tanaman kopi mencakup beberapa hal, yaitu pemilihan varietas/klon unggul yang sesuai, macam-macam bibit dan sumber bibitnya (Najiati dan Danarti, 1990). Ada beberapa jenis kopi arabika yang dikembangkan di Kebuan Kalisat-Jampit Bondowoso, di antarnya  USDA, HDT, LINI S, BP.308 ( yang digunakan untuk batang bawah).

Tabel 1.Jenis dan Jumlah Bibit

No

Keterangan

Jlh

Ph

1

USDA

 

 

 

  120,000

2

HDT

 

 

 

    70,000

3

LINI S

 

 

 

    20,000

4

BP. 308

 

 

    30,000

 

 

 

 

 

  240,000

4.5.      Perbanyakan Secara Generatif (zailing)

4.5.1.  Cara Memperoleh Benih

Merah sempurna      Benih yang akan disemaikan dapat diperoleh dari kebun benih yang di miliki kebuan atau juga bias diperoleh di Balai Penelitian Perkebunan yang sudah di uji kualitasnya (Kanisius, 1988). Di kebun Kalisat-Jampit, benih yang akan disemaikan diperoleh dari kebun benih  yang berada di Afdeling Kampung Malang akan tetapi apabila stok di kebun tidak mencukupi, benih juga diperoleh dari Balai Penelitian Perkebunan (BPP). Benih yang digunakan harus benih yang memenuhi kriteria dalam penyediaan benih, diantaranya benih dipetik pada masa puncak panen dalam keadaan masak optimal yaitu sekitar bulan Juli-Agustus. Selain itu harus dipilih biji yang normal, tidak terkena hama penyakit dan tidak poly embrio.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7. Gambar Biji Kopi Masak Optimal

 

4.5.2.   Seleksi dan Cara Pembuatan Benih

      Benih yang akan disemaikan harus disortasi terlebih dahulu. Hal ini  dilakaukan untuk menjaga agar bibit yang dihasilkan oleh benih benar-benar berkwalitas. Adapun benih yang memenuhi kriteria persemaian adalah benih tidak cacat, benih tidak poliembriom dan benih tidak terserang hama bubuk yang mengakibatkan benih berlubang dan kopong. Penyeleksian perlu dilakukan agar bibit yang dihasilkan mempunyai kualitas baik sehingga hasil yang diinginkan juga baik.

 

 

 

 

 

Gambar 8. Biji Kopi Sebelum dan Sesudah diseleksi

 

Adapun cara pembuatan benih adalah: kulit dan daging dipisahkan dengan cara manual (dipisahkan dengan tangan atau diinjak-injak dengan kaki) atau mekanis dengan menggunakan mesin (hand pulper), kulit dalam (kulit tanduk) dijaga agar tidak rusak karena apabila kulit tanduk terkelupas biji tidak dapat tumbuh sehingga dalam proses pemisahan harus dilakukan dengan hati-hati, lendir yang melekat pada kulit tanduk dibersihkan dengan abu dapur dan dicuci dengan air hingga bersih setelah itu benih dikering anginkan selama 2-3 hari sampai rendemen 40%. Biji yang telah disortasi lalu dikelupas kulitnya, setelah itu biji dikering anginkan selama 2 hari setelah benih kering selanjutnya dilakukan sortasi yang kedua kalinya. Jika biji itu hampa dan bentuknya jelek sebaiknya tidak disemai (Kanisius, 1988).

 

 

 

 

Gambar 9. Macam-Macam Benih dan Proses Pengeringan

Apabila persiapan benih dilakukan untuk komersial atau waktu persemaiannya masih lama, maka harus dilakukan penyimpanan benih agar kualitas dan mutu benih tetap terjaga. Penyimpanan benih dilakukan agar rendemen (kadar air) tidak menurun (tidak boleh kurang dari 28%), tidak terserang hama bubuk. Penyimpanan benih bertujuan untuk menanggulangi kerusakan benih terutama daya tumbuhnya (Najiati dan Danarti, 1990). Penyimpanan benih bisa dilakukan dengan car sebagai berikut. Benih yang akan disimpan dalam waktu lama harus diidentifikasi dari serangan hama bubuk buah sehingga perlu difungisida dengan menggunakan terfentum, benih disimpan dalam peti kayu dengan ukuran 5 m2, benih ditebar dalam perti kayu berlapis-lapis dengan tebal 5 cm, lalu diatasnya diberi kain lap yang dilapisi terfentum atau tiner dengan dosis 1 cc/100 cm2 dari luas kain lap. Proses disinfeksi berlangsung selama 3 x 24 jam dan sesudah itu benih dikeluarkan dari peti serta diangin-anginkan selama 2-3 jam sampai bau terfentin/tiner hilang.

Setelah benih dikering anginkan kemudian benih ditaburi serbuk arang yang dibasahi dengan air dengan perbandingan 3 kg benih kopi : 1 gram serbuk arang : 150 cc air. Adapun tujuan perlakuan ini agar benih tetap dalam kondisi kering Kemudian benih dimasukkan dalam karung goni disimpan dalam ruang sejuk dan gelap (kelembaban 90% dan temperatur 25-30 0C). dengan cara ini benih dapat bertahan 6 bulan dengan daya tumbuh 70-80%.

 

4.5.3.   Persemaian

4.5.3.1. Syarat Tempat Persemaian

Persemaian (kimbed) merupakan media tanaman untuk memperoleh bibit yang baik sehingga akan mempunyai daya tumbuh yang tinggi. Untuk itu diperlukan persyaratan dalam menyediakan tempat persemaian yaitu mempunyai pengairan (drainase) yang baik, lokasi dekat dengan sumber air untuk penyiraman, terlindung dari gangguan hewan (ternak dsan lainnya), lokasi dekat dengan jalan dan tidak mengandung nematoda atau cendawan akar sehingga perlu dilakukan pemberantasan nematoda dan jamur. Lahan yang akan digunakan untuk pembibitan sebaiknya dipilih yang terbaik, yaitu tanah yang subuh, banyak mengandung humus, lahan datar, berdekatan dengan sumber air dan mudah dijangkau (Najiati dan Danarti, 1990).

 

4.5.3.2. Pengolahan Lahan Untuk Persemaian dan Cara Penyemaian

Setelah syarat tempat persemaian terpenuhi, kegiatan selanjutnya adalah mengolah lahan untuk media persemaian. Pengolahan lahan bertujuan untuk mempermudah kegiatan persemaian. Adapun cara pengolahan persemaian yaitu tanah dicangkul sedalam 30-40 cm dengan lebar 120 cm dan dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1 ( dua tanah dan satu pupuk kandang), membuat naungan untuk persemaian dibuat menghadap ketimur dengan tinggi 120 cm dan dibagian belakang (barat) 90 cm. Tujuan dari naungan untuk memaksimalkan masuknya sinar matahari pagi sebagai bahan untuk fotosintesis (Vademikun, 1994) kemudian tanah digebruk agar halus serta dibersihkan dari bahan-bahan yang akan mengganggu pertumbuhan benih (batu, kerikil, plastik dll).

Setelah tanah halus dan bersih lalu dibentuk bedengan agar rapi dan mudah menghitung populasi benih, dipinggir bedengan diberi gembet dari bambu setebal 30 cm agar tanah tidak longsor dan di atas tanah diberi pasir dengan tebal 3 cm. agar pada waktu pencabutan bibit mudah

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 10. Proses Pembuatan Bedengan

 

 

4.5.3.3. Cara Persemaian

Persemaian adalah salah satu cara dalam perbanyakan bahan tanam. Sebelum melakukan persemaian, hal yang perlu dipersiapkan adalah alat untuk mengukur jarak tanam yang terbuat dari bambu dengan ukuran 3 x 5 ( 5 cm antar barisan dan 3 cm dalam barisan). Jarak tanam berfungsi mengetahui populasi yang akan ditanam, selain itu juga berfunsi agar tidak terjadi persaingan yang ketat dalam penyerapan unsur hara. Media persemaian harus terlebih dahulu disiram agar kondisi tanah lembab sehingga mempermudah persemaian.

Benih ditanam dengan posisi tengkurap (bagian rata dibawah) dan dibenamkan setebal benih agar mempermudah pertumbuhan akar, lalu ditutup dengan tanah halus. Setelah selesai penanaman, media persemaian ditutupi alang-alang sampai media tidak terlihat untuk menjaga posisi benih tidak terbalik saat melakukan penyiraman

 

 

 

 

 

 

              Gambar 11. Proses Penyemaian Benih

4.5.3.4. Pemeliharaan

Selama persemaian, benih harus disiram setiap hari selam tidak turun hujan. Pada proses pembenihan, penyiraman dilakukan secara manual dan tidak boleh berlebih karena akan mengakibatkan benih busuk. Setelah 6-7 minggu, biji kopi telah tumbuh dan disebut “stadium serdadu”. Disebut demikian karena dalam stadium ini hipokotyl telah tegak lurus (panjang kurang lebih 8 cm) dengan cotyledon (daun lembaga) masih terbungkus sisa-sisa endosperm dan endoscrap (kulit tanduk) masih terbungkus. Dalam stadium ini akar terus bertambah panjang akan tetapi tinggi hipokotyl tidak berubah. Pada masa serdadu alang-alang dibuka dan dilakukan pemberantasan hama, pemupukan (leda leta).

Pada umur 5-6 minggu kemudian, benih sudah masuk dalam stadium kepelan, dimana bibit sudah mempunyai  dua daun yang terbuka. Pada stadium ini, bibit sudah bisa dipindahkan dengan menggunakan solet agar akar tidak putus. Proses pembenihan secara zailing biasanya digunakan untuk persiapan bibit yang akan di tanam langsung di lapang, namun penyemaian yang dilakukan oleh penulis adalah untuk dijadikan batang bawah (ondestand) pada teknik perbanyakan bahan tanam dengan teknik sambung kepel.

4.6.      Perbanyakan  Secara Vegetatif

            Ada beberapa teknik perbanyaan bahan tanam secara vegetative yang biasa dilakukan, yaitu stek (cutting) dan sambung (enting/grafting). Dari kedua kemungkinan tersebut, yang banyak dilakukan secara besar-besaran hanyalah dengan cara menyambung. Sedang menyetek beluk begitu meluas karena kemungkinan hidup sangat dan tidak semua jenis bias di stek (Kanisius. 1988). Di kebun Kalisa-Jampit perbanyakan dengan cara stek hanya dilakukan pada jenis kopi robusta (Coffea rubusta L.) BP 308 untuk digunakan sebagai batang bawah yang akan disambung dengan jenis kopi arabika (Coffea arabica. L.).

 

4.6.1. Stek

Stek yang dilakukan di kebuan kalisat jampit bertujuan untuk dijadikan batang bawah. Stek   diperakarkan pada medium yang terdiri atas campuran tanah dan pasir (makin berat jenis tanah makin banyak pasirnya). Tebal medium bawahnya untuk memperbaiki drainase dan tata udara. Apabila medium terlalu basah dan tata udaranya jelek, stek akan menjadi kekuningan, kemudian busuk dan mati. Stek ditanamkan hingga daunnya hampir menyentuh medium, pada jarak 5 x 10 cm.

Bahan stek yang digunakan Afdeling Kampung Baru di ambil di kebun entres, dimana pemangkasan pada tanaman induk harus 3 bulan sekali agar menghasilkan bahan tanam yang baik. Bahan stek yang dipakai adalah tunas-tunas air (wiwilan) yang bersal dari kebun entres. Bahan tanam yang diambil berupa batang tanaman kopi yang beruas-ruas, yang mana untuk dijadikan bahan stek adalah tiap ruas hingga ujung atau pucuk.  Panjang bahan stek ± 7 cm (satu ruas). Media untuk stek adalah tanah humus, pupuk kandang, dan pasir dengan perbandingan 3 : 1 : 1. Di bedengan stek untuk menjaga kestabilan suhu dibuat sungkup dengan menia bambu setinggi 50 cm dan diatasnya diberi plastik dan alang-alang. Sebelum bahan stek ditanam, maka media stek disiram dan dibuat lubang tanam dengan kedalaman 2 – 5 cm dengan jarak 5 x 10 cm. Selanjutnya bahan stek dibenamkan kedalam cairan yang tebuat dari air kencing sapi dan campuran air kelapa selam 5 detik untuk merangsang perakaran. Stek dibiarkan sampai umur 3 bulan, lalu siap dipindahkan ke pembibitan yang ditanam pada polibag. Perbanyakan stek mempunyai beberapa keuntukngan dan kekurangan, antara lain:

o    Keuntungan:

-    Tidak memerlukan tenaga terlatih

-    Dapat dilakukan secara massal

-    Tidak mengalami kemungkinan pengaruh buruk dari batang bawah

-    Berbuah 1 tahun lebih awal

-    Akar serabut lebih banyak

-    Wiwilan hanya sedikit(pada waktu masih muda)

-    Tidak ada persoalan dengan tunas palsu

o    Kekurangan:

-  Bagi pembentukan akar diperlukan kondisi yang perlu diatur lebih seksama

-  Memerlukan pengawasan lebih lama selama penyetekan (± 3 bulan)

-  Akar tunggang lebih pendek

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 12. Proses Stek

4.6.2. Penyambungan

            Penyambungan merupakan salah satu cara perbanyakan tanamn yang dilakukan di Kebun Kalisat Jampit. Alat yang digunakan dalam penyambungan adalah:

-    Pisau sambung tajam dan bersih

-    Batu asahan halus

-    Tali sambung (plastik es atau rafia)

-    Kain blanco untuk pembersih pisau sambung

Sedangkan bahan yang digunakan dalam penyambungan adalah:

a.         Batang bawah

Batang bawah sebaiknya dipergunakan semaian yang berasal dari benih klonal yang mempunyai sistem perakaran yang baik. Batang bawah diperoleh dari perkembang biakan secara stek dari kebun entres. Untuk jenis batang bawah yang digunakan adalah klon robusta BP 308 yang mempunyai ketahanan terhadap nematoda, kekeringan serta mempunyai perakaran banyak. Akan tetapi jenis ini mempunyai sifat rakus terhadap unsur hara karena perakarannya yang kuat. Klon robusta BP308 telah di uji di laboratorium maupun di lapang oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKI).

Berdasarkan hasil pengujian dan observasi tersebut kopi robusta klon BP 308 telah dilepas oleh Pemerintah sebagai klon anjuran untuk batang bawah, sebagai salah satu cara untuk pengendalian nematoda parasit dengan penggunaan varietas tahan yaitu dengan SK Mentan No:65/Kpts/SR.120/1/2004.

Untuk kepentingan komersial, PPKKI mampu menyediakan bahan tanam BP 308 dalam bentuk stek, sambungan, dan hasil kultur jaringan. Jumlah bahan tanam yang mampu disediakan sekitar satu juta bibit per tahun, dan jumlah tersebut dapat ditingkatkan pada tahun-tahun yang akan datang.

Untuk menjaga kemurnian klon BP 308, maka bahan tanam penjenis klon tersebut disimpan di kebun koleksi plasma nutfah PPKKI. Pemuliaan klon BP 308 pada awalnya ditujukan untuk mendapatkan klon yang mempunyai produktivitas tinggi. Klon ini sebenarnya produksinya cukup tinggi (50 % lebih tinggi dibanding klon standar BP 42), akan tetapi satu sifat khas klon BP 308 yang tidak dimiliki klon-klon anjuran kopi robusta lain adalah persentase biji bulat (round bean) tinggi (62,5%) dan persentase biji normal rendah (37,5%). Sifat fisik biji inilah yang mendasari klon BP 308 kurang disukai apabila digunakan sebagai sumber produksi biji.

Batang bawah dapat disambung pada umur 10-12 bulan, ketika batang kira-kira stebal pensil. Untuk menghindari perubahan genetis dari pohon induk, maka Klon Robusta BP 308 diperbanyak secara klonal (bukan secara zailing). 

 

 

 

Tabel 2. Sifat Agronomi klon Kopi Robusta

Klon Kopi

Sifat Agronomi

Klon BP 308

Perawakan: besar, kokoh; Percabangan: kuat, panjang ruas sedang; Helaian daun: membusur, permukaan daun bergelombang dan menyudut, tepi daun bergelombang tegas, pupus coklat muda kehijauan; Perakaran: melebar; Akar lateral banyak; Pembungaan: agak lambat; Buah: kecil tidak seragam, diskus kecil, buah muda beralur tegas, buah masak merah hati; Biji: kecil, banyak biji tunggal (62%); Produktivitas 1.400-1.600 kg/ha/th

 

b.        Entres

Dikenal 2 macam entres, yaitu entres pucuk (top entrijs) dan entres cabang (tak entrijs). Untuk penanaman biasanya dipakai entres pucuk yang berasal dari tunas – tunas air (wiwilan). Entres cabang, yaitu entres yang berasal dari cabang primer, akan tumbuh plagiotropik (ke samping), dan pada umumnya hanya dipakai untuk keperluan rehabilitasi pertanaman (tuinverenting). Entres sebaiknya diambil dari kebun entres, karena entres dari tanaman produksi seringkali kurang baik (ros terlalu panjang dan lembek). Entres bisa diambil dari tunas – tunas air yang berumur ± 3 bulan, dan telah mengeluarkan cabang – cabang primer. Ruas yang baik ialah no.2 sampai dengan no.4, karena ruas no.1 pada umumnya masih terlalu muda sedang ruas yang lebih tua telah keras dan berkayu.

Di kebun Kalisat Jampit, entres di ambil dari kebun entres yang berada di Afdeling Kampung Malang dan Sempol yang sudah berumur 3 bulan dan diambil pagi-pagi sekali dan langsung disambung, tidak boleh dipakai untuk keesokan harinya supaya tidak layu dan kambium masih segar, sehingga kemungkinan penyambungan berhasik cukup tinggi.

Klon yang digunakan disesuaikan dengan permintaan kebun. Namun yang jadikan batang atas (entress) adalah jenis USDA dan LINI S yang memiliki produktivitas tinggi dan pertumbuhannya baik.

Varietas kopi arabika yang di tanam adalah jenis USDA, LYNI S dan HDT

 

Tabel 3. Sifat Agronomi Klon Kopi Arabika

Klon Kopi

Sifat Agronomi

Klon USDA

Perawakan: besar, kulit kecoklatan, ruas batang panjang, percabangan bagus Buah: pentil buah agak lonjong buah masak serempak, berat 100 butir kopi 150 gr Biji: seragam dan agak memanjang

L    LYNI S

Perawakan: batang cepat membesar, ruas agak pendek. Buah: buah masak berwarna merah hati dan biji mempunyai berat 15,7 % kopi pasar                                                                                                                                                                                                         

HDT

Perawakan besar dan mempunyai produksi tinggi

 

c.         Teknik Penyambungan

Penyambungan sebaiknya dilakukan pada awal musim penghujan akan tetapi penyambungan bisa dilakukan pada musim kemarau asalkan kebutuhan air  tercukupi. Ada 2 teknik penyambungan yang biasa dilakukan , yaitu sambung celah (spleet ent) dan sambung tempel (plak ent), namun teknik yang dilakuan di Kebun Kalisat Jampit adalah sambung celah kerena teknik sambung celah mempunyai presentase keberhasilan lebih tinggi dibandingkan dengan sambung tempel.

Selain itu, sambungan ada dua dalam budidaya tanaman kopi, yaitu sambungan top dan tak. Untuk sambungan “top”  untuk penyambungan awal untuk batang atas dan batang bawah. Penggunaan batang bawah biasanya pada klon yang mempunyai keunggulan banyak akar, tahan nematode dan tahan terhadap kekeringan, contohnya BP 308.  Untuk klon tanaman kopi batang atas memiliki produksi tinggi dan buahnya besar – besar. Sambungan “tak” untuk pembentukan cabang ke samping atau pertumbuhan horizon tanaman kopi dengan teknik yang sama dengan top yaitu menggunakan teknik penyambungan celah atau “V”.

Adapun cara/teknik  dalam penyambungan yang dilaksanakan di Kebun Kalisat Jampit adalah batang bawah dipotong rata pada tinggi ± 15 cm dari permukaan tanah kemudian dibuat celah dengan membelah dengan pisau sambung sepanjang 3-4 cm, entres harus sama dengan batang bawah. Setelah itu entres dipotong seruas, sepanjang ± 7 cm, daun dan cabang dipotong. Batang entres yang akan dimasukkan kecelah batang bawah dipotong miring kanan kiri sepanjang ± 3-4 cm lalu entres dimasukkan kecalah batang bawah lalu diikat dengan tali. Apabila entres lebih kecil maka enters harus diruncingkan pada sisi yang lebar. Begitu juga sebaliknya apabila entres lebih besar harus diruncingkan pada sisi yang kecil.

 

d.        Macam-Macam Penyambungan

Di Kebun Kalisat Jampit, ada berbagai macam penyambungan adalah:

·           Sambung Kepel (Hypokotil)

Sambung kepel dilakukan pada saat bibit berumur “stadium kepel”, yaitu pada saat bibit mempunyai dua daun kepel. Untuk ondestsnd (batang bawah) dibenihkan lebih awal dari entres dengan jarang ± 15 hari. Hal ini dilakukan agar batang bawah lebih tua dibandingkan batang atas. Adapun kelebihan adalah:

-  Presentase tumbuh lebih terjamin karena batang bawah dan batang atas masih muda.

-  Penanaman ebih mudah karena perakaran masih lentur dan hanya mempunyai akar tunggang.

Adapun kekurangan dari sambung kepel adalah:

-  Diragukan mempunyai sifat yang sama dengan induknya (tidak klonal)

-  Akan mudah patah apabila tali sambungan tidak segera dibuka

-  Membutuhkan tenaga yang betul-betul ahli

-  Mudah patah saat pelaksanaan

·           Sambung Berakar

Sambung berakar dilakukan pada waktu batang bawah mempunyai akar yang diperoleh dari stek ataupun membeli dai Balai Penelitian. Adapun kelebihan dari sambung berakar adalah:

-  Tidak mudah patah

-  Peresentase hidupnya lebih besar karena sudah mempunyai akar.

-  Mempunyai sifat genetis sesuai dengan induknya

Kelemahan dari sambung berakar adalah:

-  Akar mudah bengkok saat penanaman sehingga pertumbuhan tanaman terganggu

-  Pengerjaannya sulit karena batang sudah keras

·           Sambung Stek

Sambung stek merupakan teknik penyambungan yang dilakukan dengan cara menyetek batang bawah lalu disambung dengan entres dan langsung ditanam tanpa adanya pengakaran batang bawah terlebih dahulu. Adapaun kelebihan dari teknik ini adalah:

-  Membutuhkan tenaga kerja yang lebih sedikit

-  Waktu yang diperlukan lebih sedikit dibandingkan dengan sambung kepel dan sambung berakar

-  Mempunyai sifat genetis sesuai dengan induknya

Kelemahan dari sambung stek adalah:

-  Presentase keberhasilan rendah

-  Perawatan harus lebih intensif.

 

e.         Pembibitan

·           Persiapan Bahan Tanam

Bahan tanamn dipersiapkan lebih awal dari rencana pembibitan agar pada saat penanamn bibit lebih mudah. Bahan tanam dibuat dari tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1. Setelah bahan tanam siap lalu dimasukkan kedalam polybag berukuran 15 x 15 dan ditata rapi di bedengan bagian pembibitan.

Setelah media tanam siap lalu dibuat sungkup untuk mengatur kelembaban dan suhu yang dibutukan oleh bibit hasil sambungan agar kelembaban selalu stabil (kelembaban 8-90%, suhu dengan temperatur ± 23 – 26 oC) . Lengkungan sungkup terbuat dari bambu dengan tinggi ± 100 cm sedangkan untuk sungkup memakai plastik berwarna putih.

Untuk naungan sendiri di kebun Kalisat Jampit memakai 2 jenis naungan yaitu naungan tetap dan naungan sementara. Naungan tetap memakai jenis lamtoro L2 karena jenis ini mudah dalam perawatannya sedangkan untuk naungan sementara memakai paranet dengan tinggi 220 cm.

 

 

·           Penanaman

Setelah bibit selesai disambung lalu ditanam  kemedia yang telah disiapkan, akan tetapi sebelum penanaman hal yang perlu dilakukan adalah:

-  Media tanam disiram terlebih dahulu agar kondisi tanah tetap lembab

-  Lalu media tanam ditugal sedalam 10-15 cm

-  Tanah yang sudah ditugal diberi mikoriza untuk  merangsang penyerapan unsur hara

-  Sebelum bibit ditanam dicelupkan kedalam cairan yang terbuat dari campuran urine sapi dan air kelapa. Bahan ini mempunyai fungsi yang sama dengan roton yaitu untuk merangsang perakaran.

-  Setelah bibit ditanam, sungkup ditutup dengan rapat agar udara tidak masuk. Lalu di atas sungkup ditutup dengan alang-alang.

 

4.7.      Pemeliharaan

Setelah bibit berumur 15 hari  dilakukan pemeliharaan (penyiraman, penyiangan, pembasmian hama penyakit, pemupukan dan penyulaman). Pemeliharaan dilakukan untuk menjaga agar pertumbuhan bibit dibedengan tetap stabil. Ketika bibit berumur 40 hari, tutup atau sungkup dibuka setiap pagi sampai bibit berumur 70 hari. Hal dilakukan agar bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan sehingga saat sungkup dibuka total bibit tidak mengalami stress. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat pemeliharaan adalah:

 

 

4.7.1.  Penyiraman

   Teknik penyiraman yang dilakukan di Kebun Kalisat Jampit memakai Springkle Irigation yang dipasang dengan jarak 10 meter antar barisan dan juga dilakukan secara manual apabila penyiraman secara teknis tidak memadai. Pada saat musim penghujan, penyiraman dilakukan satu kali setiap hari akan tetapi pada saat musim kemarau penyiraman dilakukan dua kali sehari. Penyiraman tidak boleh berlebih karena akan mengakibatkan bibit menjadi busuk.

 

4.7.2.  Penyiangan

           Interval penyiangan disesuaikan dengan kondisi tanaman, penyiangan dimaksudkan supaya media tanam tetap bersih dan juga untuk meminimalisir terjadinya perebutan unsur hara sehingga bibit dapat tumbuh normal. Selain itu penyiangan dimaksudkan agar organisme pengganggu tidak berkembang disekitar pembibitan. Penyiangan dapat dilakukan secara manual dengan menggunakan tangan atau koret Setelah melakukan penyiangan, media tanam dikecrok agar tanahnya menjadi.

 

4.7.3.  Pemupukan

   Pemupukan dilakukan untuk memenuhi unsur hara yang dibutuhkan tanaman agar tanaman dapat tumbuh dengan normal. Di Kebun Kalissat Jampit pemupukan dilakukan setiap setiap bulan. Pada minggu I menggunakan pupuk lewat tanah (anorganik) dengan dosis yang sudah ditentukan (Tabel 4)

Tabel 4. Dosis Pemupukan

Umur (Bulan)

Jenis Pupuk dan Dosis (gr)

Urea

SP36

KCl

Jumlah

1

1

0,25

0,25

1,5

2

1

0,25

0,25

1,5

3

1

0,25

0,25

1,5

4

2

0,5

0,5

3

Umur (Bulan)

Jenis Pupuk dan Dosis (gr)

Urea

SP36

KCl

Jumlah

5

2

0,5

0,5

3

6

2

0,5

0,5

3

7

3

1

1

5

8

3

1

1

5

9

3

1

1

5

10

4

1,5

1,5

7

11

4

1,5

1,5

7

12

4

1,5

1,5

7

 

  Untuk menambah unsur hara pada bibit juga diberikan GEER dan pemupukan lewat daun Geer merupakan bahan yang terbuat dari campuran urine sapi, pupuk kandang dan urea dengan perbandingan 1 kg pupuk urea, 5 kg pupuk kandang, 10 liter urine sapi dan sisanya air samapai mencapai 100 liter. Pengaplikasian geer dapat dilakukan setiap 2 minggu 1 kali (Tabel. 5)

 

Tabel 5. Jadwal Pemupukan

Perlakuan

Minggu

I

II

III

IV

Pupuk Lewat Tanah

x

 

 

 

Geer

 

x

 

 

Pupuk Daun

 

 

x

 

Geer

 

 

 

X

 

4.7.4.  Pemberantasan Hama Penyakit

   Pengendalian hama penyakit dharus dilakukan secara dini apabila terlihat gejala serangan (misal karat daun, ulat dll) untuk menanggulangi kerusakan bibit sebelum dikirim kelapang. Pengendalian hama penyakit yang dilakukan di Kebin Kalisat Jampit yaitu secara kimiawi dan pengendalian hama terpadu.

Setelah dilakukan pemeliharaan selama kurang lebih 10-12 bulan, bibt dapat ditanam dilapang pada saat musim hujan (bulan Januari-Agustus) dan bibit tidak akan ditanam pada saa musim kemarau.


V.   PENUTUP

 

5.1.  Kesimpulan

        Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa :

a.         Tanaman kopi merupakan tanaman tahunan, menjadi salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia dan komoditas perkebunan penghasil devisa Negara. Pengelolaan kopi oleh Negara diselenggarakan melalui BUMN yang penugasannya dilakukan PTP Nusantara XII.

b.         Perbanyakan Tanaman di PTPN XII Kebuan Kalisat Jampit menggunakan 2 cara yaitu zailing (generatif), stek dan sambung (vegetatif)

c.         Klon yang digunakan di PTPN XII Kebun Kalisat Jampit adalah klon BP 308 sebagai batang bawah, klon USDA, LINI S dan HDT sebagai batang atas

d.        Tahapan teknik pembibitan di PTPN XII Kebun Kalisat Jampit yaitu persiapan bahan stek untuk understump yang berasal dari cabang ortotrop, memperakarkan understump pada bedengan, pemindahan stek pada polibag yang sebelumnya dilakukan seleksi bibit, penyambungan dengan metode celah, dan pemeliharaan meliputi penyiangan, penyiraman serta pemupukan.

e.         Perbanyakan secara vegetatif dapat menghasilkan tanaman kopi yang mempunyai factor genetic sama dengan induknya, produktivitas tinggi, mempunyai perakaran yang kuat serta tahan terhadap serangan hama (nematode) dan kekeringan.

 

5.2. Saran

a.         Peningkatan kualitas bibit perlu dilakukan dengan peningkatan teknik pembibitan, yaitu pembuatan bedengan yang sesuai dengan menggunakan atap yang memiliki kelembaban optimal, seleksi bibit (baik pada saat pemilihan bahan stek, bibit di polibag  maupun bibit yang akan disambung) dan pemeliharaan bibit, meliputi penyiraman, pengendalian hama penyakit serta pemupukan.

b.         Perlunya pemanfaatan teknologi untuk perbanyakan tanaman, yaitu secara kultur jaringan. Sehingga kebun dapat menghasilkan kopi yang bermutu tinggi.

c.         Perlunya pencatatan yang lebih rinci pada tiap Afdeling tentang perencanaan dan evaluasi harian.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Anonymous.1995. Vademikum Kopi Robusta. PTPN XII Kebun Malangsari

 

Anonimous. 2006. Tanaman Kopi. Aceh Tengah: Persatuan Petani Kopi Gayo Organik at blogspot.com

 

Anonimous. 2008. Varietas Unggul Kopi Arabika. Asepolije’s Weblog at WordPress.com

 

Anonimous. 2009. Manajemen Pembibitan. Ihsan Bumi Lestari

_________. 2008. Kopi Andalan Ekspor Indonesia. Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Departemen Pertanian. Inc. All Rights Reserved. Jakarta; http://pphp.deptan.go.id: webagribisnis@deptan.go.id ; infoweb@pphpdeptan.org

_______.2009. Pengolahan Kopi Robusta. PTPN XII Kebun Malangsari

 

­              .2010 a.  Sejarah Penyebaran Kopi. (http://artikel perdata. Blogspot.com/2009/04/sejarah-penyebaran-kopi.html diakses tangal 20 Juli 2010)

 

              .2010 b Sejarah Kopi. (11http://id.wikipedia.org/wiki/sejarah_kopi diakses tanggal 20 Juli 2010)

 

Direktorat Jenderal Perkebunan, 1989. Statistik Perkebunan Indonesia Tahun 1984-1989, Kopi. Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta.

 

Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, 2001. Statistik Perkebunan, Kopi Robusta. Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Jakarta.

 

Ernawati, Rr. Dkk. 2008. Teknologi Budidaya Kopi Poliklonal. Agro Inovasi

 

Kanisius. 1988. Budidaya Tanaman Kopi. Yogyakarta: Kanisius

 

Najiyati, sri.Ir dan  Ir. Danarti. 2001. Kopi Budidaya dan Penanganan Lepas Panen. Jakarta: Penebar Swadaya.

 

Prabowo, Yudi. 2007. Budidaya Kopi. Jakarta: Agrokomplek NASA.

 

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s